WHAT'S NEW?
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Sumber : http://www.arrahmah.co.id/wp-content/uploads/2014/11/Bung-Tomo-Hari-Pahlawan-10-November.jpg


Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
Kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
(Krawang-Bekasi, 1948, Chairil Anwar)

10 November 2015 tentu berbeda dengan 10 November 1945. Bukan hanya orang-orang yang mengisi hari-hari ini yang berbeda, namun pemikiran, mental, semangat juang pun berbeda. Kita tentu menyadari saat ini kita tidak mungkin melihat semangat juang sebagaimana pahlawan-pahlawan kita miliki dulu. Namun bukan berarti kita tidak berjuang sama sekali, masih banyak yang perlu diperjuangkan, bahkan mungkin perjuangan yang lebih besar. Bentuk perjuangan kita jauh berbeda, jika para pahlawan kita dulu menggunakan senjata, maka saat ini kita berjuang menggunakan akal fikiran, kita berjuang bersama moral, kita berjuang untuk kebenaran. Sungguh benar-benar berbeda.

Chairil anwar dalam bait terakhirnya di atas mengatakan, Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata Kaulah sekarang yang berkata. Dalam bait ini dijelaskan bahwa perjuangan para pahlawan pendahulu kita sudah berakhir, sekarang adalah waktu kita untuk bertindak. Waktu kita untuk melanjutkan perjuangan itu. Menuntaskan sisa-sisa perjuangan kala itu.

Bagaimana meneruskan perjuangan mereka (para pahlawan)?

Sedikit pertanyaan menggelitik yang belum tentu setiap orang bisa menjawabnya. Kita bisa menjawab sesuai pemikiran dan kondisi kita masing-masing. Seorang petani tentu tak bisa mengisi kemerdekaan sebagaimana presiden. Seorang arsitek tak akan mengisi kemerdekaan dengan bercocok tanam. Ya, kita semua memiliki jalan masing-masing, kita semua memiliki keahlian masing-masing, tapi ada satu hal yang harus kita miliki bersama, kepedulian terhadap sesama yang akan membangun nasionalisme di Indonesia. Apakah itu penting? Ya, dan Tidak. Sama dengan menjawab pertanyaan “apakah mengetahui dan hafal nama-nama pahlawan itu penting?”. Saya jawab Ya dan Tidak. Persepsi orang memang berbeda-beda, saya akan katakan penting jika sedang berhadapan dengan seseorang yang “perlu” mengetahui nama pahlawan. Dan akan saya katakan tidak penting untuk orang-orang yang tidak perlu mengetahuinya. 

Anggap saya adalah guru dan saya memiliki 2 murid. Salah satu murid saya (anggap saja si A) cerdas, rajin membaca, kemampuannya melebihi teman-teman seumurannya, tapi dia memiliki kebiasaan (moral) yang tidak baik. Dan satu lagi murid saya (panggil dia si B) biasa saja, tapi akhlaknya sungguh mulia, dia rajin membaca juga namun tidak sepandai si A. kira-kira dari kedua anak ini manakah yang paling mungkin memiliki rasa nasionalisme tinggi. Mungkin si A yang hafal diluar kepala tentang sejarah pahlawan, mungkin saja si B yang tidak terlalu memahami sejarah  pahlawan namun berjiwa pahlawan.

Nasionalisme bisa diartikan sebagai kecintaan terhadap tanah air. Namun, penjelasan mengenai nasionalisme tidak pernah dibatasi karena sesungguhnya nasionalisme bukan hanya tentang mengenal dan mencintai Indonesia dengan mengenang jasa pahlawan pra kemerdekaan. Nasionalisme memiliki arti yang lebih luas, cinta tanah air memiliki perwujudan yang lebih luas. Presiden menyalurkan rasa nasionalisme dengan menyalurkan pemikiran dan mengupayakan kesejahteraan rakyat. Guru menyalurkan rasa nasionalisme dengan mengabdikan diri untuk mengajari murid-muridnya. Orang tua menyalurkan rasa nasionalismenya dengan mendidik generasi muda bangsa menjadi generasi yang lebih baik dan lebih bermanfaat. Sedangkan kita? Generasi muda bangsa, apa yang akan kita lakukan untuk menyalurkan rasa nasionalisme kita? Tuliskan resolusi nasionalismemu, dan pikirkan cara mewujudkannya! :)

#haqi
Sumber : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrP5X5sXM7HNVHMDuhaUZNfUsJMGUkXyaBPAwhX9v_KUgu4eHuxcV0BlEUhl9H5fgR27XlonTeVHH2EiezTI7z3_voVfMpvj5oocdLXIo0tQ4kIO1G0cVDGBVNoNdXZ9QR8Jzvl9qN3rjt/s1600/Hymne+Guru.jpg

Profil

Sartono (lahir di Madiun, Jawa Timur, 29 Mei 1936 – meninggal di Madiun, 1 November 2015 pada umur 79 tahun) adalah seorang mantan guru seni musik yayasan swasta di Kota Madiun, Jawa Timur, yang dikenal dengan prestasinya dalam menciptakan lagu "Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" pada tahun 1980-an. Sebuah lagu wajib yang kini selalu dinyanyikan di sekolah-sekolah baik tingkat SD hingga SMA di Indonesia. 
Sartono mempelajari musik secara otodidak tanpa mengenyam pendidikan tinggi tentang musik. Pada tahun 1978, Sartono adalah satu-satunya guru seni musik yang bisa membaca not balok di wilayah Madiun. Karena keterbatasan alat musik yang ia miliki, lagu "Hymne Guru" ia ciptakan dengan bersiul sambil menorehkannya ke dalam catatan kertas.
Sartono memulai kariernya sebagai guru seni musik pada tahun 1978. Ia adalah guru di sebuah yayasan swasta yang mengajar di SMP Katolik Santo Bernardus, Kota Madiun. Sartono sendiri purnatugas dari sekolah tersebut pada tahun 2002.
Walaupun penghasilannya dari pekerjaannya sebagai guru pas-pasan, kecintaannya pada musik membuat Sartono menciptakan beberapa buah lagu. Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional pada tahun 1980, Sartono mengikuti lomba mencipta lagu tentang pendidikan. Dari ratusan peserta, lagu "Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" ciptaannya, berhasil menjadi pemenang. Selain mendapatkan sejumlah uang sebagai pemenang, Sartono bersama sejumlah guru teladan lainnya di seluruh Indonesia dikirim ke Jepang untuk studi banding.
Selain lagu "Hymne Guru", Sartono juga menghasilkan delapan buah lagu bertema pendidikan lainnya. Perhatiannya yang demikian serius dalam dunia pendidikan dan pengabdiannya sebagai guru membuahkan penghargaan dari MendikbudYahya Muhaimin dan Dirjen Pendidikan Soedardji Darmodihardjo pada saat menciptakan lagu "Hymne Guru".
Sartono pernah diminta oleh TNI Angkatan Darat ke Aceh pascabencana Tsunami pada tahun 2004 untuk menghibur dan memberi semangat para guru di Aceh.
(wikipedia)

Lagu Hymne Guru

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guruNamamu akan selalu hidup dalam sanubarikuSemua baktimu akan kuukir di dalam hatikuSebagai prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu
Engkau sebagai pelita dalam kegelapanEngkau laksana embun penyejuk dalam kehausanEngkau patriot pahlawan bangsaTanpa tanda jasa..

Makna Hymne Guru

Jika kita cermati lebih lanjut, lagu hymne guru bukan hanya berisi tentang pujian atas jasa-jasa guru, tetapi juga menceritakan tentang sebuah perjuangan yang dilalui guru semasa menjalankan tugasnya. Lagu Hymne Guru memang memiliki lirik yang sangat menyentuh hati. Seakan lagu ini merupakan sebuah luapan terimakasih tak terhingga yang diterjemahkan oleh Sartono (Sang Penulis) dalam sebuah bait lagu. Dalam bait terakhir disebutkan bahwa guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Begitu besar dedikasinya untuk anak bangsa. Guru yang mengajarkan alfabet yang melekat seumur hidup (mungkin) hanya dikenang selama beberapa tahun. Adakah balasan yang lebih baik dari sekedar penyematan gelar "pahlawan tanpa tanda jasa?"
Mencari arti seorang "guru"
Bagi sebagian orang (mungkin) guru adalah salah satu profesi yang aman, dalam artian tidak memberikan resiko tinggi bagi pasiennya (baca muridnya). Tapi jika kita pikirkan lebih dalam sebenarnya guru-lah profesi yang memiliki resiko terberat dalam sejarah. Guru yang baik, benar, santun dan berbudi pekerti baik akan melahirkan siswa yang baik, teladan, berakhlak santun dan akan mengerti tentang apa yang di ajarkannya. Mengerti dalam hal ini bukan berarti harus mendapatkan nilai yang sempurna, tetapi dapat menyerap dan memanfaatkan ilmunya (meskipun sedikit). Sedangkan guru yang tidak bisa menjadi teladan akan melahirkan murid yang (maaf) bisa jadi lebih buruk dari guru-nya. Meskipun tidak semua koruptor lahir dari seorang guru koruptor. Namun dalam perannya, guru benar-benar dituntut untuk menjadi teladan yang baik.
Semua orang bisa menjadi guru
Setiap orang yang mengajarkan kita akan suatu hal, sekecil apapun itu, adalah guru kita. Bahkan Sayyidina Ali (karomallahu wajhah) berkata “aku adalah budak (hamba sahaya) bagi orang yang mengajariku, walaupun hanya satu huruf saja. Kalau ia hendak menjualku, terserah. Jika ia hendak memerdekakanku, jika mau ia pun bisa memperbudakkanku.

Kita belajar untuk mengetahui, dan mengajarkan agar mengerti.